PAPUA, OKSIBIL.ID – Pembela HAM di Papua, yang Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem menilai kedatangan Wapres Gibran di Yahukimo justru menjadi masalah di berbagai pihak. Ia menyoroti kematian seorang TNI.
Dirinya menjelaskan, kunjungan itu justru tidak membawa perubahan. “Kunjungan kerja tertutup yang dilakukan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, pada Selasa, 21 April 2026, bertujuan untuk meninjau fasilitas publik dan kondisi keamanan di wilayah tersebut. Kunjungan ini sebelumnya sempat tertunda karena alasan keamanan. Dalam kunjungan tersebut, Wakil Presiden meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, RSUD Dekai, serta pos keamanan TNI”, Kata Theo kepada media ini melalui pesan WhasApnya kamis (30/04).
Adapun tujuan kunjungan ini kata Theo, meninjau langsung kondisi keamanan, emastikan keberlanjutan program Pemerintah, Melihat pelayanan publik, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Selain itu, Wakil Presiden juga mengunjungi beberapa lokasi serta memberikan apresiasi kepada aparat TNI/Polri yang telah menjaga keamanan di Yahukimo.
Namun demikian, kunjungan yang dilakukan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia tersebut dinilai belum berhasil mengamankan situasi di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan.
“Tidak lama setelah kunjungan tersebut, terjadi baku kontak antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan TNI di Kali Wo, Kota Dekai, pada 18 April 2026. Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang anggota TNI tertembak dan meninggal dunia”, ujarnya.
Kepada media ini dirinya memberi Rekomendasi, pertama; Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, diharapkan tidak hanya fokus pada persoalan pasukan perdamaian yang korban di luar negeri, tetapi juga memberi perhatian serius terhadap anggota TNI dan Polri yang menjadi korban di Tanah Papua. Kedua; Permasalahan Papua perlu dilihat secara menyeluruh dan diselesaikan melalui pendekatan dialog, sebagaimana yang pernah dilakukan dalam penyelesaian konflik di Aceh. Dialog diyakini sebagai jalan damai yang tidak menimbulkan korban jiwa dan point ketiga; Ia juga melampirkan foto korban dari anggota TNI sebagai bentuk kepedulian dan harapan agar hal ini menjadi perhatian serta pertimbangan bagi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. (team)










